Jumat, 15 Januari 2016

Objek Wisata Museum Lewu Hante di Pasar Panas - Bar-Tim

AAA – Kabupaten Barito Timur adalah kabupaten yang kaya akan sejarah dan tempat wisata nya, salah satu nya adalah Museum Lewu hante yang ada di Kec Banua Lima, Taniran.

Dalam bahasa Dayak maanyan, Lewu Hante yang berarti Rumah Besar atau sering di sebut Rumah Betang. Rumah betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat diberbagai penjuru Kalimantan dan dihuni oleh masyarakat Dayak terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak.

Museum lewu hante ini terletak di perbatasan provinsi kalimantan selatan dengan provinsi kalimantan tengah, museum ini juga menyimpan barang barang bersejarah seperti : bangah (guci), tombak, mandau, gong dan beberapa alat musik lain nya, serta beberapa pistol dan samurai. Objek wisata ini memiliki 2 replika rumah betang yang salah satu nya di pakai untuk museum. rumah betang ini tidak di huni, tetapi hampir nyerupai rumah betang asli yang di huni oleh suku dayak. Di halaman musem ini juga memiliki taman yang luas untuk bersantai yang di lengkapi dengan beberapa replika - replika gambaran yang bermotif dayak, beberapa kafe yang ada di pinggir museum, serta adanya patung “upu dengan wawei” yang berarti laki – laki dan perempuan yang ada di depan panggung. Bicara tentang panggung pertunjukan yang ada di objek wisata lewu hante ini banyak di gunakan untuk acara berbagai event – event daerah dan musik seperti, Festival JAJAKA yang di selenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan juga ada event musik daerah serta musik underground di kawasan Barito dan Kalsel.

Kawasan ini adalah satu-satunya yang memiliki daya tarik tersendiri dan merupakan ruang terbuka publik, secara sosial ruang ini dapat mengundang beberapa aktivitas spontan yang pada akhirnya dapat mengundang keramaian sehingga dapat menjadi magnet kawasan seperti terlihat beberapa aktivitas pionir yang dapat memicu keramaian seperti pedagang kaki lima dan menjadi arena bermain anak.

Dalam sektor pariwisata, kawasan Rumah Tradisional Betang ini yang merupakan kawasan asli suku Dayak yang ada Kalimantan. Selain kembali memberikan kehidupan yang berarti bagi mereka juga membuka peluang dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Maka perlunya promosi yang lebih dalam sektor pariwisata serta perawatan untuk pariwisata tersebut. Terima kasih.

Artikel terkait : Museum Lewu Hante Pasar Panas

Senin, 11 Januari 2016

Desa Bangkuang Tepian Indah di Pinggir Sungai Barito

AAA – Desa Bangkuang adalah sebuah desa yang ada di kecamatan Karau Kuala, Kanupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah. Desa ini terletak di pinggir sungai Barito, sungai terpanjang ke – 3 di Indonesia. Desa ini juga menjadi pelabuhan oleh berbagai perusahaan batu bara yang ada di kalimantan tengah dan kalimantan selatan.
Artikel yang berjudul Desa Bangkuang Tepian Indah di pinggir Sungai Barito ini adalah artikel iseng – iseng yang saya buat, saya sendiri belum pernah ke desa ini, tapi dari cerita teman – teman yang pernah ke desa bangkuang menceritakan bagaimana keadaan dari desa bangkuang.

Desa Bangkuang pada asalnya adalah suatu pedusunan dengan usaha masyarakat seperti mencari ikan dan berladang. Sebelum penjajahan Belanda, Bangkuang terletak pada aliran sungai Barito yang mencoruk ke sebelah Timur, namun dengan kejadian alam, sungai Barito tersebut tertutup oleh tumpukan tanah erosi / Gusung karena sekitar 150 tahun yang lalu ada yang membuat jalur lintasan anak sungai yang menembus/menghubungkan sungai barito yang melingkar berputar. sehingga menjadi sungai Barito, seperti gambar di atas desa bangkuang seperti di kelilingi anak dari sungai yang membentuk hati, sungguh tepian yang indah di pinggir sunagi barito. Ada legenda yang mengatakan membesarnya anak sungai yang menghubungkan kedua aliran sungai Barito tersebut adalah tenggelamnya Perahu pengantin yang sedang milir dari Desa Babai menuju Desa Bangkuang pada waktu itu. Penduduk Bangkuang telah dihuni Oleh orang-orang dari suku Dayak Bakumpai yang bahasa nya mirip dengan bahasa dayak Ngaju (80 % kemiripan dengan bahasa ngaju/biaju), yang mayoritas beragama Islam.

Desa Bangkuang berbatasan dengan dengan desa Telang siung, Kab Barito Timur. Serta desa palantau, desa telok betung, desa pinungku, desa janggi, dan desa selat baru, Kab. Barito Selatan

Di desa ini untuk prasarana tergolong lengkap meskipun jauh dari ibu kota Buntok, kab. Barito Selatan, seperti Penginapan, Bank, Kantor Pos dan giro, Pusat Kesehatan Masyarakat, Kepolisian, Koramil, dan juga sarana Komunikasi. Desa yang indah dan juga asri, kebudayaan yang ramah dan mudah menerima tamu – tamu atau pendatang. Selain dijadikan sebagai pelabuhan batu bara, desa bangkuang juga terdapat perusahaan kelapa sawit yang menjadi pekerjaan masyarakat selain sebagai petani, buruh, pedagang dan juga nelayan.

Desa yang maju dan juga nyaman, perkumpulan dari berbagai suku ada di sini. Masyarakat yang cinta damai.
#dayak bakumpai – sangkay city, the city of bbm.

Minggu, 10 Januari 2016

Objek Wisata Makam Putri Mayang Sari

AAA – Barito Timur, tepatnya di desa Jaar, Kec. Dusun Timur. Terdapat objek wisata lagenda / ziarah makam putri dari kerajaan Banjar, yaitu putri Mayang Sari. Berbicara tentang objek wisata di tanah dayak, kali ini saya akan memperkenalkan objek wisata tersebut.
Putri Mayang Sari adalah salah satu sejarah suku dayak maanyan, dalam artikel sebelumnya saya pernah menulis sejarah putri mayang. Putri Mayang Sari adalah Pemimpin Dayak Maanyan yang meneruskan kepemimpinan Uria Lan'na. Putri Mayang Sari berkedudukan di Jaar-Sangarwasi, Kabupaten Barito Timur. Puteri Mayangsari puteri dari Raja Banjar Islam yang pertama (Sultan Suriansyah) dari isteri keduanya Norhayati yang berdarah Dayak, cucu Labai Lamiah tokoh Islam Dayak Maanyan. Walau Mayang Sari beragama Islam, dalam memimpin sangat kental dengan adat Dayak, senang turun lapangan mengunjungi perkampungan Dayak dan sangat memperhatikan keadilmakmuran masyarakat Dayak di masanya. Itu sebabnya ia sangat dihormati dan makamnya diabadikan dalam Rumah Adat Banjar di Jaar, kabupaten Barito Timur (Marko Mahin, 2005)

(baca : Sejarah Putri Mayang Sari di Jaar Sangarasi)

“Putri Mayang Sari Menurut sejarah lisan orang Dayak Ma’anyan, Mayang Sari yang adalah putri Sultan Suriansyah yang bergelar Panembahan Batu Habang dari istri keduanya, Noorhayati. Putri Mayang Sari dilahirkan di Keraton Peristirahatan Kayu Tangi pada 13 Juni 1585, yang dalam penanggalan Dayak Ma’anyan disebut Wulan Kasawalas Paras Kajang Mammai. Sedangkan Noorhayati sendiri, menurut tradisi lisan orang Dayak Ma’anyan adalah perempuan Ma’anyan cucu dari Labai Lamiah, tokoh mubaligh Suku Dayak Ma’anyan.”

Dalam perjalanan saya kali ini bersama sahabat saya yang sama sebagai penulis di blog ini, kami sempatkan bersantai sambil mengambir beberapa fhoto tentang objek wisata yang ada di desa Jaar, jika anda melewati desa Jaar anda tidak bisa melihat lansung gerbang menuju makam putri Mayang karena letaknya masuk ke dalam sebuah jalan Sekolah Dasar, nah.. di belakang SD tersebut tempat objek wisata putri Mayang, sekitar 200 meter dari jalan raya.

Setelah anda masuk ke objek wisata tersebut anda bisa melihat banyak pohon durian yang tumbuh tinggi serta pohan pisang yang di tanam oleh penjaga makam, di makam ini juga terdapat makam Uria Mapas Negara sebagi suami dari putri mayang. Tidak jauh dari makam putri mayang tersebut terdapat sungai yang menurut legenda nya menjadi tempat mandi putri mayang, nama sungai ini adalah Lubuk Kajang.

Tempat ini banyak di kunjungi oleh peziarah – peziarah dari kab. Barito timur, maupun dari luar barito timur. Ada yang sekedar untuk berwisata, ada juga yang memiliki hajat dengan membawa persembahan – persembahan seperti ayam, sapi maupun dupa – dupa agar keinginan nya terkabul maupun yang sudah terkabul.

Demikian informasi yang dapat saya berikan dalam perjalanan saya menuju objek wisata makam putri mayang sari. Trima kasih

Jumat, 08 Januari 2016

Sejarah Desa Dayu – Barito Timur

AAA – Desa Dayu terletak di Kecamatan Karusen Janang, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia.
bundaran tugu di desa dayu
Menurut beberapa artikel yang saya baca di internet, hanya sedikit yang tau tentang sejarah desa dayu, bahkan banyak versi versi yang berbeda. Maka dari itu saya mencoba untuk mengumpul data data dan menggabungkan nya jadi satu dalam artikel ini.

Baca juga : Sejarah Desa Sarapat

Menurut beberapa sumber, Desa dayu di kenal dengan nama Kampung Amungin, nama desa Dayu berasal dari sebutan orang orang yang datang ke desa dayu dan mengatakan “ang da dayu’en” artinya tidak mencukupi. Karena waktu itu desa dayu memiliki beberapa pohon durian dan ketika berbuah, hasil dari buah tersebut tidak mencukupi untuk masyarakat desa dayu tersebut.

Dulu Desa Dayu adalah hutan belukar yang tak berpenghuni. Ada 2 tempat perkampungan yang dihuni oleh masyarakat yaitu Amungin dan Mawunto (2 sungai di dayu), tapi perkampungan Mawuntu terkena wabah serangan semut yang banyak membuat masyarakat meninggalkan perkampungan mawuntu dan pergi ke perkampungan Amungin karena tanah nya subur. Kemudian di jadikan perkampungan tetap.

Pada jaman kerajaan nansarunai dan banjar, Amungin di pimpin oleh Uria Biring, Dam’mung Tupo dan Patis Layang. Kemudian pada tahun 1590, kampung Amungin ditetapkan menjadi Dayu dan sejak tahun 1790 sampai 1945, ada 7 Pamakal (kepala kampung atau sekarang dengan sebutan kepala desa).
Yaitu :
1.    Nawa (tahun 1970 – 1810).
2.    Ganing (1810 – 1826).
3.    Layat (1826 – 1876),
4.    Ngalam (1876 – 1896) ,
5.    Lungki (1896 – 1922) dan
6.    Laden (1922 – 1942)
7.    Dina (1942 – 1945)
Data di atas hanya yang tercatat, ada beberapa yang tidak tercatat.

Ada beberapa situs sejarah yang ada di desa dayu yaitu :
-    Bundaran Dayu
Bundaran dayu atau simpang tiga dayu menuju Kec Paju 4, menuju kec Dusun Timur (kampung sapuluh), dan yang terakhir menuju kec Paku (tampa).
-    Abeh (orang yang berubah menjadi patung )
Tiap tahun ada ritual adat untuk memberi makan patung tersebut.
-    Kuburan Petinggi Perkamungan Amungin dan keluarganya
Kuburan yang sudah dipindah atau di kedatonkan oleh masyarakat. Di area kuburan ini juga ada pohon durian yang menjadi asa nama desa dayu (pohonya sudah di tebang)

Demikian beberapa data yang saya ketahui dari sejarah desa dayu. Jika ada yang salah dalam tulisan saya mohon untuk pembenaranya, dan yang terakhir saya minta maaf jika ada kata kata yang tidak baik atau menyinggung, sekali lagi saya minta maaf. (sangkay city – Perjalanan Di Tanah Dayak) Andri Arai Atei

Selasa, 05 Januari 2016

ADARO ETHNIC FESTIVAL

AAA – Adaro Ethnic Festival adalah sebuah festival adat dan budaya yang di selenggarakan oleh PT. Adaro Indonesia. Festival ini selalu di selenggarakan di Kabupaten Tabalong setiap tahun nya, dan tahun pertama untuk Kabupaten Barito Timur
Kebudayaan adalah bagian penting dalam kehidupan masyarakat dayak kalimantan. Adaro percaya bahwa rasa hormat terhadap budaya dan kearifan lokal akan menumbuhkan rasa saling percaya dan saling menghormati di antara perusahaan dan masyarakat, yang dalam jangka panjang akan memperkuat landasan operasionalnya. Jadi Adaro ingin menumbuhkan hubungan yang baik dengan masyarakat setempat dengan menjaga dan mengembangkan budaya tradisional mereka.

Acara Adaro Ethnic Festival kini telah di selenggarakan di 2 kabupaten yaitu Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan dan Kabupaten Barito Timur, Kalimatan Tengah. Secara letak dari 2 kabupaten ini adalah lokasi dari PT. Adaro Indonesia.


1.    Tabalong Ethnic Festival di Kabupaten Tabalong, yang telah diselenggarakan setiap tahun dalam tiga tahun terakhir, diharapkan untuk menjadi salah satu daya tarik pariwisata karena acara ini menampilkan kekayaan budaya Tabalong melalui tarian, makanan, kostum daerah, dan warisan budaya. Festival ini juga telah menghasilkan manfaat bagi masyarakat Tabalong dengan memperkuat budaya tradisional dan memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat kab. Tabalong sendiri
2.    Keang Ethnic Festival di Kabupaten Barito Timur, baru pertama kali dilaksanakan pada 30-31 oktober dan 01 nopember 2015 bertempat di Lewu Hante Desa Telang Siong, Kec. Paju Epat Kabupaten Barito Timur. Diharapkan akan menjadi salah satu daya tarik pariwisata karena acara ini menampilkan kekayaan budaya Tabalong melalui tarian, makanan, kostum daerah, dan warisan budaya.

Dalam mempersiapkan acara ini, anggota masyarakat setempat dan para relawan membuat penelitian yang mendalam mengenai budaya suku Dayak, dan kemudian merencanakan acara dengan panduan dari Adaro. Acara ini direncanakan untuk diselenggarakan secara rutin dan dikembangkan menjadi acara yang akan menarik wisatawan supaya dapat menumbuhkan industri pariwisata dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah setempat.
Semoga dalam terselenggaranya acara ini menjadi lankah awal untuk pelestarian budaya dan juga alam. Terima kasih.

Senin, 04 Januari 2016

Wurung Jue Dalam Perkawinan Suku Dayak Maanyan

AAA – Suku dayak adalah suku asli pulau Borneo atau Kalimantan, Suku Dayak sangat kaya akan tradisi adat - istiadat nya, contohnya dalam ritual adat perkawinan yaitu “Nyama Wurung Jue”. Wurung jue atau bahasa Indonesia nya adalah burung kuau / burung heruei.
Wurung jue dalam perkawinan suku dayak maanyan dapat di artikan sebagai seorang mempelai wanita.

Dalam artikel sebelumnya telah saya jelaskan apa itu wurung jue, atau silahkan baca artikel

 > Burung Kuau Salah Satu Identitas Suku Dayak <.

Kenapa suku dayak memakai burung jue sebagi tradisi adat adalah karena burung yang satu ini menjadi ciri khas yang ada di kalimanatan, selain buru burung ini yang indah, prilaku dari burung ini yang menjadikan simbol dalam perkawinan suku dayak. Burung ini merupakan perlambangan sebuah kesetiaan, kesucian, keagungan, kebersihan diri dari segala hal dan kewaspadaan terhadap ancaman-ancaman. Burung ini setia dengan pasangan nya.

Pada acara “nyama wurung jue” sebenarnya adalah acara puncak dari perkawinan adat dayak maanyan yang di akhiri dengan “turus tajak”, bahkan acara ini adalah acara paling seru karena para wadian akan melakukan pertunjukan – pertunjukan yang atraktif seperti “namuan gunung perek” dan di tutup dengan “wadian bulat”.

Acara nyama wurung jue sebenarnya untuk mencari mempelai wanita, mempelai pria yang datang untuk mencari mempelai wanitanya. Tugas wadian adalah untuk mencari mempelai wanita, akan ada 5 wanita yang akan di pasangkan dengan mempelai pria sampai yang terakhir mempelai wanita yang asli di temukan, biasanya dari pasangan pertam sampai ke empat di ambil dari penonton yang datang (mulai dari anak-anak, remaja, ibu – ibu dan nenek – nenek, asalkan wanita). Kemudian yang terakhir adalah adalah mempelai wanita yang sebenarnya atau wurung jue yang sebenarnya, karena maksud dari acara nyama wurung jue ini adalah untuk mencari wanita pasangan dari mempelai pria.

Dalam ritual adat nyama wurung jue ini di saksikan oleh mantir mantir adat dan para pangulu adat berserta keluarga dari kedua belah mempelai serta para penonton yang datang. Acara selanjutnya adalah pemenuhan janji hukum adat dan turus tajak.

Itulah sedikit tentang acara perkawinan suku dayak maanyan “Nyama Wurung Jue” (sangkay city tim)

#sc

Jumat, 01 Januari 2016

Obyek Wisata Taman Anggrek Hitam di Desa Murutuwu – Barito Timur

AAA – Di Kabupaten Barito Timur, tepatnya di Desa Murutuwu kec. Paju 4. Sebenarnya saya baru tau kalau di sesa murutuwu terdapat tempat wisata berupa hamparan tanaman anggrek yang sangat luas, anggrek tersebut adalah anggrek hitam, yang luas nya mencapai 4 hektar.
Dinamakan anggrek hitam karena anggrek ini memiliki lidah berwarna hitam dengan sedikit garis-garis berwarna hijau dan berbulu. Sepal dan petal berwarna hijau muda. Bunganya cukup harum semerbak dan biasa mekar pada bulan Maret hingga Juni. Anggrek hitam termasuk dalam anggrek golongan simpodial dengan bentuk bulb membengkak pada bagian bawah dan daun terjulur di atasnya. Setiap bulb hanya memiliki dua lembar daun saja. Daunnya sendiri sekilas mirip seperti daun pada tunas kelapa muda.

Kawasan anggrek tersebut berada tepat di tengah hutan di desa murutuwu, dan telah di publikasikan oleh pemerintah kabupaten bar - tim atau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bar - tim sebagai salah satu objek kepariwisataan setempat, dan di harapkan agar dapat menjadi daya tarik bagi para wisatawan daerah maupun luar dearah.
Terdapat beberapa spesies anggrek di kawasan hutan di taman Murutuwu, tetapi yang unik adalah keberadaan anggrek hitam yang sudah sulit ditemui di hutan lainnya di wilayah tersebut. Mengenai tumbuhan anggrek hitam ( Coelogyne pandurate ) di kawasan sekitar Desa Merutuwu, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Bartim, memiliki keunikan tersendiri yaitu memiliki berbau harum lembut, dan mekar antara 5-6 hari. Anggrek hitam ini banyak diminati sehingga keberadaannya di alam terancam akibat pengambilan yang berlebihan.
   
Faktor pengancam kelestarian anggrek hitam antara lain perubahan atau rusaknya habitat tumbuh anggrek tersebut akibat pembukaan hutan, kebakaran hutan, atau akibat konversi lahan untuk pertanian atau permukiman. Apabila hal itu terjadi terus-menerus, anggrek hitam dikhawatirkan punah. Padahal, anggrek hitam termasuk jenis tumbuhan dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 yang dikeluarkan pada 27 Januari 1999.

Warga berharap kawasan Murutuwu dimungkinkan untuk sebuah pengelolaan kawasan secara legal oleh Pemerintah Kabupaten Bar - tim. Pengelolaan dilakukan dengan menjadikan lingkungan tempat tumbuh anggrek hitam sebagai kawasan konservasi, pusat penelitian alam.

Obyek wisata lain nya yang ada di barito timur adalah Riam Kendong, pemandian air panas Sibung Kecamatan Reren Batuah, Liang Saragi di Kecamatan Awang Lapai, Liang Ayah di Kecamatan Dusun Tengah.
Jika anda ingin mengunjungi tempat ini jarak nya sekitar 10 km dari kota tamiang layang lewat jalur darat. (sangkay city)

#sc