Senin, 03 Oktober 2016

Tari Jepen, Kesenian Budaya Kalimantan Timur

AAA – Tari Jepen Merupakan Kesenian Budaya rakyat Suku Kutai Kartanegara ing Martadipura yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Islam, berkembang di berbagai daerah disepanjang pesisir sungai mahakam maupun di daerah pantai di Kalimantan Timur.
Tari japen ini berkembang di  berbagai daerah pinggiran sungai Mahakam Kalimantan timur. Tarian ini merupakan salah satu tarian yang mempresentasikan kebudayaan melayu yang dinamis, atraktif, energik dan bersahaja.

Pada dasarnya gerakan dalam tarian ini sangat kental akan nuansa melayu. Sama halnya dengan tarian yang ada di Indonesia lainnya seperti tari zapin, tari dana, dan tari bedana yang semua berasal dari masyarakat suku melayu. Salah satu yang menunjukkan ciri khas melayu terlihat pada tata rias dan busananya. Dalam tata rias penari wanita umumnya di buat minimalis, tanpa menghilangkan sentuhan khas melayu pada busana penari tersebut.

Dalam pertunjukannya, Tari Jepen terdiri dari 2 jenis yaitu :

1.    Tari Jepen genjoh
Tari Jepen Genjoh Mahakam adalah salah satu jenis kreasi tari jemen yang sebagian besar gerak dalam tarian ini memang murni dari Tari Jepen. Misalnya, gerakan penghormatan, gerakan gelombang, gerakan samba setengah, gerakan samba penuh, jalan kenyak, seluang mudik dan gerak taktim. Secara umum tari genjoh Mahakam banyak mempresentasikan kebudayaan melayu.


2.    Tari Jepen eroh

Merupakan Tarian Jepen yang tidak meninggalkan gerakan aslinya seperti ragam penghormatan, ragam gelombang, ragam samba setangan, ragam samba penuh, ragam gengsot, ragam anak, dan lain-lain. eroh dalam bahasa kutai berarti ramai atau bergembira. Penataan dalam tarian ini penuh gerakan dinamis dan penuh dengan penggambaran kegembiraan

Dalam pertunjukan, Tari Jepen di iringi dengan music tingkilan. Musik tingkilan merupakan salah satu seni music khas kutai. Dalam music tingkilan, alat musik yang di gunakan adalah  gambus, ketipung, kendang dan juga biola. Selain itu juga di iringi dengan nyanyian yang di sebut dengan bertingkilan. Bertingkilan berarti bersahut – sahutan. Nyanyian ini biasanya di bawakan oleh dua orang penyanyi yang saling bersahutan dalam menyanyanyikan syair syair yang berisi petuah atau pesan moral.

Baca juga : Tari hudoq, Kaltim

Dalam perkembangannya Tarian Jepen sering di pertunjukan dalam festival budaya yang di gelar oleh pemerintah daerah di Kalimantan timur sebagai wujud pelestarian kesenian daerah. Selain itu tarian ini bisa kita temukan di berbagai acara budaya seperti pernikahan, penyambutan tamu dan lain - lain.

Ayo berkunjung ke Kalimantan timur!!


sember : negerikuindonesia.com

Minggu, 02 Oktober 2016

Daftar Suku Dayak di Sarawak, Malaysia

AAA – Andri aria atei, Pulau Kalimantan adalah pulau terbesar ke 3 di dunia, di pulau ini terdapat suku asli yang menetap, yaitu suku Dayak. Kalimantan sendiri dimiliki oleh tiga Negara yaitu Malaysia, Brunai dan Indonesia.
Dalam artikel ini kita akan membahas tentang suku – suku dayak yang ada di Malaysia. Sarawak merupakan salah satu negara bagian di Malaysia, yang terdapat etnis dayak yang dianggap sebagai penduduk asli wilayah ini. Sebenarnya daerah Sarawak ini yang menjadi mayoritas adalah kaum Melayu Sarawak. Tapi keberadaan suku Dayak juga menjadi bagian penting bagi perkembangan Sarawak.

Berikut daftar suku -  suku Dayak di Sarawak adalah :

1.    Bakati’ Rara 
2.    Balau
3.    Bemali (Bah Mali) 
4.    Berawan Tengah
5.    Berawan Timur
6.    Berawan Barat
7.    Bidayuh, Bau
8.    Bidayuh, Biatah
9.    Bidayuh, Bukar-Sadong
10.    Bidayuh, Tringgus-Sembaan
11.    Bintulu
12.    Bukitan (terdapat juga di Kalimantan Barat)
13.    Iban (daerah Kuching)
14.    Iban Dau
15.    Iban Lemanak
16.    Iban Sibu
17.    Iban Skrang
18.    Iban Ulu Ai
19.    Iban Undup
20.    Jagoi
21.    Kajaman
22.    Kayaan
23.    Kayan Baram
24.    Kayan Murik
25.    Kayan Rejang
26.    Kelabit
27.    Kiput
28.    Lahanan
29.    Lelak
30.    Long Wat
31.    Lun Bawang
32.    Melanau Tengah
33.    Melanau Daro-Matu
34.    Melanau Kanowit-Tanjong
35.    Melanau Sibu
36.    Merau
37.    Murik
38.    Narom
39.    Punan Bah 
40.    Penan
41.    Penan Belaga
42.    Penan Timur
43.    Penan Barat
44.    Punan Batu 1
45.    Remun
46.    Sa’ban
47.    Saribas
48.    Sebop
49.    Sebuyau
50.    Sekapan
51.    Seping 
52.    Seru
53.    Sian
54.    Tobak
55.    Tring
56.    Tumbang Pauh
57.    Punan Ukit (Dayak Bukitan, Dayak Beketan)
58.    Uma’ Lasan

Itulah pembagian suku – suku dayak di Serawak Malaysia. Jika ada kekurangan dalam data dan penulisan di atas mohon untuk koreksinya. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan anda.

Baca juga : Daftar suku Dayak di Sabah, Malaysia

komen dan share nya !!! Tabe,

Sumber : http://planetdayak.blogspot.co.id

Peninggalan Kerajaan Nan Sarunai (Dayak Maanyan)

AAA – Kerajaan Nan Sarunai adalah pemerintahan purba yang muncul dan berkembang di wilayah yang sekarang termasuk dalam daerah administratif Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia.

Kerajaan Nan Sarunai merupakan bagian awal dari riwayat panjang Kesultanan Banjar, salah satu pemerintahan kerajaan terbesar yang pernah ada di Kalimantan Selatan. Kerajaan Nan Sarunai terkait erat dengan kehidupan orang-orang Suku Dayak Maanyan, salah satu sub Suku Dayak tertua di tanah Borneo. Karena Suku Dayak Maanyan merupakan pendiri Kerajaan Nan Sarunai.

Di tulisan ini sangkay city blog mengambil tulisan Sutopo Ukip. yang ada pada blog dengan link http://bahasamaanyan.blogspot.co.id/2010/08/peninggalan-purbakala-maanyan-atau.html

Foto : Seorang Pemuda Dayak Maanyan (AdheROCK) yang sedang berburu ikan. Lokasi : Nukung, Desa Sarapat
Berikut bukti-bukti peninggalan sejarah kerajaan nan sarunai (Dayak Maanyan) :

1.    Di kota Banjarmasin terdapat peninggalan purbakala orang Ma'anyan :
a.    Sebuah tonggak kayu yang dinamakan "Hujung Panti", gunanya ialah tempat orang Ma'anyan kuno memandikan anak untuk pertama kalinya disungai yang disebut Mubur Walenon. Tonggak kayu itu dipakai hingga abad ke-14, terletak disebelah barat laut kota Banjarmasin.
b.    Di km 3, masuk sejauh 800 m kekiri jalan arah ke kota Martapura, terdapat sebuah tempat dinamakan Pangambangan. Pada daerah seluas 1 ha, terdapat permukaan tanah yang bersih, karena tidak terdapat satupun pepohonan yang bisa tumbuh. Diduga disitulah tempatpemukiman orang Ma'anyan yang pertama yang dipercaya oleh mereka, sebagai bekas bangunan Balai-Adat hingga abad ke-16.

2.    Kebun buah-buahan yang dinamakan Pulau Banyar Kayutangi, tempat pemukiman orang Ma'anyan hingga awal abad ke-16. Disini masih terdapat tiang-tiang bekas rumah kuno, terbuat dari kayu besi yang masih tersisa sampai sekarang, terletak 24 km dari kota Banjarmasin ke arah lapangan terbang Syamsuddin Noor.

3.    Tempat ditemukan Balontang dan makam kuno dari kayu besi terletak di Liang Anggang. Balontang dalam adat orang Ma'anyan adalah sebagai simbolis arwah orang sudah meninggal yang diadakan pesta adat secara sempurna.

4.    Gunung Paramaton atau gunung Madu_manyan, tempat penyimpanan pusaka kerajaan Nansarunai, sesudah dapat dirampas kembali dari Tanjung Negara, atau Banjarmasin pada tahun 1362.

5.    Di kota Martapura terdapat Balontang dan sumur kuno yang dinamakan sumur pahit, peninggalan orang Ma'anyan hingga abad ke-14. Sewaktu penggalian saluran pengairan dari waduk Riam Kanan ke arah Banjar Baru terdapat kuburan kuno orang Ma'anyan yang dipakai hingga abad ke-16.

6.    Disuatu tempat didaerah Burung-Lapas; di km 24 dari Martapura ke arah Rantau, 150 m kanan jalan antara Martapura dan Binuang terdapat sebuah gua dan tanah yang sedikit ditumbuhi pepohonan. Diduga tempat itu adalah bekas pemukiman yang disebut Nansarunai hingga abad ke-13, dan belum mengenal pemerintahan raja. Sesudah Nansarunai dipindahkan ke Banua Lawas baru timbul pemerintahan dalam bentuk kerajaan serta lahirnya hukum adat yang dipakai oleh orang Ma'anyan hingga sekarang.

7.    Daerah yang dinamakan pulau Kadap, yaitu tempat pemusatan prajurit-prajurit Nansarunai, sebelum perang Nansarunai kedua tahun 1362.

8.    Di daerah Margasari, terdapat candai Laras tempat pemujaan agama Hindu Syiwa, dari kerajaan Daha dari abad ke-14, hingga abad ke-16. Disini terdapat juga sebuah patung batu, berupa ujud kepala babi sebagai prasasti yang dibuat oleh orang Ma'anyan tahun 1362.

9.    Kota Negara, adalah tempat pemukiman bekas prajurit-prajurit Majapahit, terdiri dari orang Majaphit sendiri, orang Madura, orang Bugis dan orang-orang Nansarunai, setelah selesai perang Desember 1362, disini terdapat :
a.    Para pandai besi yang ahli dalam pembuatan kapal-kapal serta peralatan rumah tangga lainnya.
b.    Para ahli pembuat tembikar, kenong, gamelan dan gelang untuk tarian wadian Bawo dan wadian Dadas. Khusus untuk gamelan mereka buat memakai lima nada, yaitu do, re, mi sol dan la ialah nada-nada yang dipakai oleh orang Ma'anyan dalam musik.
c.    Terdapat sebuah sumur kuno yang airnya berwarna merah, sebagai prasasti peristiwa perang Desember 1362.

10.    Di kota Amuntai, terdapat candi Agung yaitu tempat pemujaan agama Hindu Syiwa pada abad ke-14 hingga abad ke-16 dan Tambak Wasi, yaitu tempat pembakaran mayat para prajurit korban perang Nansarunai pertama tahun 1358.

11.    Bertempat di Banyu Hirang, diselatan kecamatan Danau Panggang terdapat :
a.    Beberapa kuburan massal yang dinamakan Tambak yaitu tempat penguburan para prajurit Nansarunai dan Majapahit korban perang Desember 1362.
b.    Pada tahun 1953, pernah ditemukan oleh penjala ikan yang bernama Abdullah Wahab sebuah tiang kapal tertimbun lumpur sedalam sekitar 1 m dari permukaan air. Jalannya tersangkut pada tiang kapal yang belum dia ketahui sejarahnya. Tempat ia menjala ikan tersebut yaitu sebuah danau yang dinamakan Telaga Silaba, di selatan Kabupaten Hulu Sungai Utara.

12.    Di Pasar Arba atau Banua Lawas, adalah tempat kerajaan Nansarunai dari tahun 1309-1358, disini terdapat peninggalan kuno antara lain :
a.    Makam raja Raden Anyan atau terkenal dalam sejarah tulisan orang Maanyan mereka sebut Am'mah Jarang. Terletak dibelakang masjid tua Banua Lawas.Sumur Tua tempat Raden Anyan gugur ditumbak oleh Laksamana Nala tertutup lantai mesjid.
b.    Pohon Kamboja besar-besar, sebanyak tujuh pohon, terletak di belakang mesjid tua tersebut, sebagai peringatan moksanya tujuh orang putera Raden Anyan yaitu; Jarang, Idong, Pan'ning, Engko, Engkai, Liban dan Bangkas.
c.    Terdapat sebuah sumur tua sekitar 1 km arah barat kota kecamatan Banua Lawas yang disebut Sumur Am'mah Jarang, nama kecil Raja Raden Anyan,digunakan khusus bagi anggota keluarga kerajaan Nansarunai.
d.    Kain Sindai yang terdapat didalam mesjid tua itu juga berasal dari tenunan India yang dibeli ketika perdagangan masih berlangsung dari Kalimantan Selatan hingga pulau Madagaskar dilepas pantai timur benua Afrika.
e.    Benda kuno lainnya seperti piring celedon, gong, kenong, guci tempat pengawetan daging cara tradisional Maanyan yang disebut Wadi, gendang panjang yang dinamakan katammu'ng sudah diamankan oleh pihak kebudayaan setempat.
f.    Di halaman masjid tua tersebut terdapat dua buah tempayan kuno yang dipakai untuk keperluan menyimpan air wudhu.
g.    Terdapat sebuah Lewu Hiyang disebelah kanan serambi depan masjid. Lewu Hiyang tempat menaruh sesajen kepada roh para leluhur sewaktu pesta adat bontang.

13.    Di danau Maunna'n adalah tempat penyimpanan pusaka kerajaan Nansarunai, berupa tiang sokoguru balai adat yang terbuat dari emas, patung emas berbentuk anak laki-laki dan perempuan yang sedang menari yang masing-masing bernama amas Bakukanrik amas Bakukanrau serta sebuah lesung emas. Terdapat pula sebuah prasasti dari kayu besi sebagai tanda atau peringatan penggabungan agama Hindu Syiwa dan kepercayaan terhadap roh nenek moyang orang Maanyan.

14.    Di sungai Banyu Landas dekat Pasar Panas, terdapat sebuah perahu kuno yang belum jelas siapa pemiliknya, apakah kepunyaan orang Nansarunai atau kepunyaan orang Majapahit

15.    Di desa Bagok atau yang dahulu disebut Hadiwalang terdapat barang-barang kuno dari bahan pecah belah dibawa oleh pangeran Panni'ngatau Patih Raja Muda ketika selesai perang Nansarunai.

16.    Di desa Jangkung terdapat barang kuno yang dibawa oleh Uria Pulang Giwa pada tahun 1358. Di desa ini terdapat banyak Balontang yang menandakan bahwa di desa ini dahulu pernah menjadi pemukiman orang Maanyan yang disebut dengan Maanyan Jangkung.

17.    Dahulu dikampung Bentot, yang dahulu dinamakan Kayunringan terdapat sebuah perahu kuno yang dinamakan oleh penduduk setempat adalah perahu Nahkoda Jamuhala. Jamuhala adalah nahkoda kapal dagang Nansarunai yang gugur dalam perang Nansarunai pertama tahun 1358. Perahu tersebut diduga dapat meloloskan diri dari peperangan hingga terdampar dihulu sungai Patangkep.

18.    Di desa Ja'ar terdapat beberapa buah peninggalan kuno antara lain :
a.    Sebuah perahu kuno yang terletak dihutan Mabeje, sekitar 4 km arah timur laut desa Ja'ar. Perahu kuno tersebut oleh penduduk Ja'ar dikatakan adalah kepunyaan saudagar Keling dari Majapahit yang menjual piring celedon, mangkok, boli-boli, dapur dari tembikar, tempat menanak nasi dari tembikar yang dinamakan oleh penduduk Kabali dan tempat menanak sayur, juga dari tembikar yang dinamakan Janga. Perahu itu kandas ketika terjadi gempa tektonik pada tahun 1379, yaitu 21 tahun sesudah perang Nansarunai pertama, tahun 1358.
b.    Terdapat sebuah batu besi yang dinamakan oleh penduduk Sangar-Jatang, kemungkinan adalah dupikat Wato-sekelika dari Madagaskar.
c.    Terdapat makam Puteri Mayang Sari yang dikeramatkan oleh penduduk karena puteri tersebut adalah puteri tunggal Sultan Suriansyah atau raja Mata Habang atau Panembahan Batu Habang yang ditugaskan oleh sultan untuk menjadi penguasa didaerah orang Maanyan.

19.    Pada tahun 1987, di desa Haringen 3 km utara Tamianglayang, telah ditemukan barang-barang kuno berupa tembikar dan barang pecah belah lainnya yang merupakan warisan dari kerajaan Nansarunai yang dibawa oleh Patih Raja Panantang.

20.    Di sungai Murutowo, terdapat sebuah perahu kuno yang dikatakan oleh penduduk setempat perahu Nahkoda Jamuhala.

21.    Di desa Dayu terdapat sebuah gong besar yang dikatakan oleh penduduk setempat adalah peninggalan Puteri Junjung Buih ketika puteri tersebut datang untuk memberi petuah tentang adat untuk duka cita dan adat untuk suka cita pada masyarakat Kampung Sepuluh, dan Banua Lima pada pertengahan abad ke-16. Menurut legenda asal Puteri Junjung Buih timbul dari pusaran air di Tanjung Marabahan berupa anak perempuan kecil didalam perut dua gong yang ditangkupkan.

22.    Dahulu sungai Ayuh terdapat tempat penyimpanan batangan emas kepunyaan kerajaan Nansarunai.

23.    Di sungai Mukut dekat desa Jangkang 6 km arah timur Muarateweh terdapat sebuah perahu kuno terbuat dari tembaga lebar 40 cm dan panjang 100 m. Perahu tersebut kepunyaan pedagang cina yang salah masuk ketika menuju ke Nansarunai pada abad ke-14.

24.    Dahulu sungai Toto atau Tabalong Kiwa terdapat sebuah perahu kuno disuatu tempat yang disebut penduduk setempat Man. Tempat itu adalah persembunyian Pangeran Jarang dan Idong sewaktu perang 1358.

Demikian ! Bagi yang membaca tulisan ini, kiranya bisa berkomentar dan mengkonfirmasi tentang peninggalan-peninggalan kerajaan nan sarunai, terima kasih atas kunjungan nya!

Baca juga : Tentang Suku Dayak Maanyan

Tabe, salam Sangkay City Blog.

Sumber : http://bahasamaanyan.blogspot.co.id/2010/08/peninggalan-purbakala-maanyan-atau.html

Sabtu, 01 Oktober 2016

Daftar Suku Dayak di Sabah, Malaysia

AAA – Sabah, merupakan negara bagian Malaysia yang ada di pulau Borneo atau Kalimantan.

Wilayah Sabah ditempati oleh berbagai suku, seperti kaum (suku) Melayu, Bajau, Brunei, Banjar, Suluk dan Bugis, selain itu Sabah juga menjadi wilayah pemukiman suku Dayak yang dianggap sebagai Orang Asli wilayah Sabah.

Menurut cerita, suku-suku Dayak di Sabah Malaysia ini masih merupakan kerabat dari suku-suku Dayak yang berada di Indonesia. Karena dilihat dari tradisi kepercayaan tradisional, tradisi, budaya, bahasa, kebiasaan serta berbagai jenis senjata tidak jauh berbeda dengan suku-suku Dayak yang ada di Indonesia.

Baca juga : Tentang Orangutan Kalimantan

Dan dalam artikel ini kami telah menghimpun data – data tentang suku Dayak. Dayak adalah suku yang bersatu. Meskipun terpencar di 3 negara di borneo. Wokeh..

Berikut suku - suku Dayak yang ada di Sabah Malaysia :

1.    Abai Sungai
2.    Bisaya, Sabah
3.    Bonggi
4.    Bookan
5.    Dumpas
6.    Dusun Segama
7.    Dusun Sugut
8.    Dusun Tambunan
9.    Dusun Tempasuk
10.    Dusun Tindal
11.    Dusun Tobilung
12.    Dusun Tombonuo
13.    Dusun Tengah
14.    Gana
15.    Ida'an (Idaan, Idahan)
16.    Iranun
17.    Kadazan, Coastal
18.    Kadazan, Klias River
19.    Kadazan, Labuk-Kinabatangan
20.    Kalabakan
21.    Keningau Murut
22.    Kimaragang
23.    Kimensi
24.    Kinabatangan, Upper
25.    Kota Marudu Talantang
26.    Kota Marudu Tinagas
27.    Kuijau
28.    Labuk
29.    Lobu Lanas (Lobou Lanas)
30.    Lobu Tampias (Lobou Tampias)
31.    Lotud
32.    Minokok
33.    Paluan
34.    Papar
35.    Rungus
36.    Serudung Murut
37.    Tagal Murut
38.    Tatana
39.    Timugon Murut

Demikian, dan terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel kami, serta jangan lupa untuk membaca artikel kami yang lainnya. Tabe, terima kasih.

Baca juga : Daftar Suku Dayak di Serawak, Malaysia

Sumber : http://planetdayak.blogspot.co.id

Asal Usul Tari Gantar, Dayak Kaltim

AAA – bicara tentang asal asul dan sejarah pastinya memiliki daya tarik tersendiri, apalagi jika anda suka sejarah.
Dalam post ini sangkay city blog akan membahas tentang asal usul tarian dearah Kalimantan Timur, yaitu tari Gantar, tari gantar sendiri terbagi menjadi tiga yaitu tari Gantar Rayatn, tari Gantar Busai, dan tari gantar Senak dan Kusak.( Baca : jenis jenis tari gantar )

Bicara tentang asal usul, Tari Gantar ini dahulunya hanya ditarikan pada saat upacara adat. Namun banyak versi yang menceritakan asal mula dari tarian ini. Jadi inilah versi-versi tari gantar :

Versi 1  Upacara Tanam Padi

 
Tarian ini dulunya di laksanakan pada upacara tanam padi adat Dayak. sebuah tongkat panjang yang di gunakan dalam menari berfungsi untuk melubangi tanah. Sedangkan bambu yang pendek di gunakan untuk menaburkan benih pada lubang tersebut. Dalam tarian ini penari juga menghentakan kakinya, ini menggambarkan cara menutup lubang yang sudah di taburkan benih tadi. Para penari menari dengan bergembira dengan harapan hasil panennya akan berlimpah ruah hasilnya.

Versi 2 Penyambutan Pahlawan pulang dari Peperangan

 
Tari Gantar adalah merupakan tari sakral yang hanya boleh ditarikan saat para pahlawan pulang dari medan peperangan. Tari ini sebagai penyambut kedatangan mereka dan ditarikan oleh gadis-gadis remaja. Properti tongkat panjang adalah sebuah sumpit dan diberi hiasan kepala atau tengkorak musuh (digantungkan) yang telah dibunuh oleh para pahlawan. Sedangkan bambu kecil merupakan peraga unutk mengimbangi gerak tari.

Versi 3 Mitos Cerita Rakyat


Versi ini merupakan sebuah mitos yang merupakan cerita rakyat. Ada suatu mitos yang mengawali lahirnya Tari Gantar. Mitos ini dulunya sangat dipercaya pada masyarakat Dayak Tunjung dan masyarakat Dayak Benuaq. Konon menurut mitos yang berkembang dalam masyarakat Suku Bangsa Dayak Tunjung dan Suku Bangsa Dayak Benuaq bahwa lahirnya Tari Gantar berawal dari cerita di Negeri Dewa Nayu yang diyakini sebagai tempat Dewa Nirwana yang bernama Negeri Oteng Doi. Pada suatu hari terjadi peristiwa didalam keluarga Dewa di Negeri Oteng Doi atau Negeri Dewa Langit. Keluarga tersebut terdiri dari suatu kepala keluarga yang bernama Oling Besi Oling Bayatn. Oling Bayatn mempunyai seorang istri dan dua orang anak putri yang bernama Dewi Ruda dan Dewi Bela. Keluarga tersebut hidup tenteram dan damai di Negeri Oteng Doi. Pada suatu ketika datanglah seorang Dewa yang bernama Dolonong Utak Dolonong Payang, tanpa disangka oleh keluarga Oling Besi. Kedatangan Dolonong Utak tenyata beritikad buruk. Oling Besi dibunuhnya dengan tujuan dapat menikahi istri Oling Besi. Peristiwa tersebut terjadi didepan mata istri dan kedua anak Oling Besi. Karena takutnya istri Oling Besi menerima ajakan Dolonong Utak untuk menikah, namun kedua anaknya menyimpan dendam pada ayah tirinya tersebut.

Hari berganti hari, setelah kedua Putri Oling Besi menginjak remaja mereka berdua berencana untuk membunuh ayah tirinya. Pada suatu hari kedua Dewi tersebut akan melaksanakan niatnya untuk membalas kematian Ayah kandungnya pada Ayah tirinya, saat Ayah tirinya (Dolonong Utak) sedang istirahat di balai-balai rumahnya. Ketika kesempatan itu tiba dibunuhlah dolonong Utak dengan menggunakan Sumpit. Setelah diketahui bahwa Ayah tirinya meninggal kedua putri tersebut senang, keduanya bersuka cita dan mengungkapkannya dengan menari-nari berdua. Dan sebagai musiknya mereka mencari sepotong bambu pendek dan mengisinya dengan biji-bijian. Ungkapan kepuasan membunuh Dolonong Utak itu di lakukan hingga beberapa hari.


Kemudia dari dunia kejadian di alam Dewa tersebut diketahui oleh seorang manusia yang mampu berhubungan dengan alam Dewa yang bernama Kilip. Karena Kilip mengetahui kejadian itu maka Dewi Ruda dan Dewi Bela mendatangi Kilip agar ia tidak menceritakan kejadian ini kepada Dewa-dewa lain di Negeri Oteng Doi. Kilip menyetujui dengan mengajukan satu syarat yaitu Dewi Ruda dan Dewi Bela harus mengajarkan tari yang mereka lakukan saat bersuka cita. Tanpa pikir panjang Dewi Ruda dan Dewi Bela pun mengajarinya. Dari hasil pertemuan tersebut Kilip mendapatkan satu bentuk tarian sakral karena properti tari tersebut berupa tongkat panjang dan sepotong bambu, maka Kilip memberi nama tarian tersebut sebagai Tarian Gantar yang artinya tongkat (yang sebenarnya sebuah sumpit) dan sepotong bambu yang biasa disebut Kusak.

Baca juga : Tari Gantar Dayak Banuaq dan Tunjung

Itulah asal usul tari gantar Kalimantan timur, semoga artikel ini dapat bermampaat bagi pembaca. Tabe, salam dari Sangkay City Blog!
 

Sumber: Wikipedia Indonesia

Jenis - Jenis Tari Gantar dari Kalimantan Timur

AAA – Dalam tarian Gantar penari menggunakan sebuah tongkat dan bambu pendek sebagai property menarinya.Tarian ini menggambarkan expresi kegembiraan para penari dan juga keramahan masyarakat Dayak dalam penyambutan tamu. Tarian ini sering di fungsikan untuk penyambutan para tamu atau wisatawan yang hadir dalam acara adat Kalimantan timur.

Tari Gantar merupakan tarian yang mengalami rangkaian proses modifikasi. Tarian ini hampir sama dengan tari giring giring dari Kalimantan tengah yang menggunakan tongkat panjang dan bambu kecil sebagai property menarinya. Namun yang membedakan pada tarian ini adalah gerakannya yang di dominasi oleh gerakan tangan dan hentakan kaki.

Tari Gantar yang sekarang sering kita saksikan merupakan rangkaian gerakan yang mengalami proses penggarapan maupun pemadatan. Gerakan Tari gantar didominasi pada gerakan kaki. Dalam Tari Gantar di bagi menjadi tiga jenis yaitu :

1.    Tari Gantar Rayatn

Tari Gantar Rayatn hanya menggunakan satu alat yaitu tongkat panjang, pada tongakat panjang ini di hiasi dengan tengkorak yang  di bungkus kain merah dan di hiasi ibus. Dalam tarian ini mereka menari sambil bernyanyi serta melambaikan tangan sesuai irama. Jenis tarian ini bisanya di lakukan pada ritual adat masyarakat Dayak. Apabila di tampilkan dalam acara acara budaya, maka tongkat yang di gunakan tidak menggunakan tengkorak, melainkan hiasan lainya.

2.    Tari Gantar Busai
Tari ini hanya menggunakan sepotong bambu dengan biji-bijian. Pada saat menari, penari melambai dengan anggun sambil memainkan bambu yang di pegangnya sesuai irama. Bambu yang di gunakan tersebut di beri 12 gelang agar berbunyi jika di gerakkan. Dalam tarian ini biasanya penari berkelompok, sehingga memadukan suara dari bambu dan hentakan kaki yang di padukan dengan musik pengiringnya. Jumlah bambu atau gantar tersebut sesuai dengan jumlah penarinya. Mereka menari berkelompok-kelompok, kadang ada yang “Ngloak” (menari sambil saling memupuki dengan pupur basah)

3.    Tari Gantar Senak dan Kusak
Yang terakhir adalah Gantar senak dan kusak. Senak dalam tarian ini adalah tongkat yang di pegang di tangan kiri. Sedangkan kusak adalah bambu yang di pegang tangan kanan. Bambu yang di gunakan dalam jenis ini di isi dengan biji bijian agar suara yang di hasilkan terdengar nyaring. Dalam jenis tarian Gantar ini penari memainkan tongkat panjang dan menghentakkan kaki sambil memainkan suara bambu tadi dengan cara di ayunkan.

Baca juga : Tari Gantar Dayak Banuq dan Tunjung


Tabe, wasalam..

Tari Gantar Dayak Banuaq dan Tunjung, Kalimantan Timur

AAA – dalam hal kebudayaan, suku dayak memiliki beragam-ragam kesenian, contohnya adalah tari gantar. Ya.. Tari Gantar tercipta akibat perpaduan antar suku Dayak Benuaq dan Tunjung yang ada di provinsi Kalimantan Timur.
Dalam tarian Gantar ini penari menggunakan sebuah tongkat dan bambu pendek sebagai property menarinya.Tarian ini menggambarkan expresi kegembiraan para penari dan juga keramahan masyarakat Dayak dalam penyambutan tamu. Tarian ini sering di fungsikan untuk penyambutan para tamu atau wisatawan yang hadir dalam acara adat Kalimantan timur.

Tari Gantar pada saat ini merupakan tarian yang mengalami rangkaian proses modifikasi. Tarian ini hampir sama dengan tari giring giring dari Kalimantan tengah yang menggunakan tongkat panjang dan bambu kecil sebagai property menarinya. Namun yang membedakan pada tarian ini adalah gerakannya yang di dominasi oleh gerakan tangan dan hentakan kaki.

Tari Gantar ini dahulunya hanya ditarikan pada saat upacara adat saja, menurut versi cerita yang lain bahwa tari gantar merupakan tarian yang dilaksanakan pada saat upacara pesta tanam padi. sebuah tongkat panjang yang di gunakan dalam menari berfungsi untuk melubangi tanah. Sedangkan bambu yang pendek di gunakan untuk menaburkan benih pada lubang tersebut. Dalam tarian ini penari juga menghentakan kakinya, ini menggambarkan cara menutup lubang yang sudah di taburkan benih tadi. Para penari menari dengan bergembira dengan harapan hasil panennya akan berlimpah ruah hasilnya. Sedangkan versi lainnya adalah Tari Gantar dilakukan untuk menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang yang di lakukan oleh para gadis remaja suku Dayak, serta ada juga yang mengatakan bahwa Gantar ini berawal dari legenda  dewa yang di percaya masyarakat suku Dayak di Kalimantan timur.

Baca juga : Asal Usul Tari gantar, Dayak Kaltim

Properti tari sebuah tongkat panjang tersebut adalah kayu yang digunakan untuk melubangi tanah pertanian dan bambu pendek adalah tabung benih padi yang siap ditaburkan pada lubang tersebut. Gerakan kaki dalam tari ini menggambarkan cara menutup lubang tanah tersebut. Muda-mudi dengan suka cita menarikan tari tersebut dengan harapan panen kelak akan berlimpah ruah hasilnya.

Tari Gantar yang sekarang sering kita saksikan merupakan rangkaian gerakan yang mengalami proses penggarapan maupun pemadatan. Gerakan Tari gantar didominasi pada gerakan kaki. Dalam Tari Gantar di bagi menjadi tiga jenis yaitu tari gantar rayatn, tari gantar busai, dan tari gantar senak dan kusak
 

Baca juga : Jenis-jenis Tari Gantar

Dalam pertunjukannya, Tari Gantar biasa di lakukan oleh penari wanita. Penari itu di balut dengan busana tradisional adat suku Dayak dengan penuh warna hitam dan corak yang berwarna merah, kuning, dan hijau. Selain itu juga berbagai asesoris seperti gelang, kalung dan tidak lupa ikat kepala yang menambah kecantikan para penarinya. Dalam pertunjukannya Tari Gantar juga di iringi musik tradisional khas suku Dayak. Dengan alunan nada beritme semakin kencang mengikuti gerakan para penarinya sehingga para penonton yang menyaksikan terhanyut dalam kegembiraan yang di sampaikan penarinya lewat gerakan tari tersebut.

Terima kasih telah berkunjung ke Sangkay City Blog, Baca juga artikel-artikel kami yang lainnya – Tabe!!

Sumber : Wiki indo dan negerikuindonesia.com