Rabu, 18 Mei 2016

Sejarah Bahasa Sangiang dan Eksistensinya


AAA - Sangiang adalah roh-roh leluhur (manusia ilahi) selaku utusan Tuhan yang dapat diundang kehadirannya oleh seorang basie/basir (pendeta adat) dengan menggunakan mantra-mantra dalam bahasa Sangiang/bahasa Sangen (bahasa Dayak kuno) pada suatu upacara agama Kaharingan yang dilakukan suku-suku Dayak di Kalimantan.

Dalam agama Hindu Kaharingan kita mengenal yang namanya sangiang, atau kalau menurut Agama Hindu dikenal dengan istilah Dewa  dan menurut agama lainnya dikenal dengan Malaikat.

Menurut ajaran agama Hindu Kaharingan kita mengenal beberapa Dewa atau Malaikat dari Ranying Hatalla Langit yang bertugas untuk membimbing manusia-manusia di pantai Danum Kalunen (dunia).

Antara lain dari para sangiang itu yang kita kenal adalah :

·         Janjulung Tatu Riwut
·         Gembala Raja Tanggara
·         Sangkaria Nayru Menteng
·         Raja Tuntung Tahaseng
·         Tamanang Tarai Bulan
·         Raja Sapanipas
·         Raja Mise Andau

 
Para sangiang di atas mempunyai tugas yang masing-masing diatur oleh Ranyinng Hatalla Lanigt, guna membimbing umat manusia di dunia ini (Batang Danum Injam Tingang) dan termuat dalam kitab suci.

Sejarah Bahasa Sangiang

Dalam sejarahnya bahasa Sangiang terdiri dari dua periode atau dua tahap yaitu :
1.    Periode pertama
Bahasa Sangiang hanya digunakan pada pantai danum sangiang di Lewu Telu. Pada saat itu Ranying Hatalla menugaskan malaikatnya yang diberi nama Raja Uju Hakanduang Kanaruhan Hanya basakati, yang terdiri dari :
·         Raja Mandurut Untung
·         Raka Angking Penyang
·         Raja Untung Barakat
·         Raja Panimbang Darah
·         Raja Garing Hatungku
·         Raja Tuntung Matan Andau
·         Raja Putir Selung Tamanang

2.    Periode Kedua
Bawi ayah mengajarkan nenek moyang orang Dayak selama 7 (tujuh) tahun lamanya, dan semua upacara dilaksanakan  seperti di Lewu batu Nindan semua bisa dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, generasi bawi Ayah yang melaksanakan berbagai upacara adalah diwarisi oleh orang-orang perempuan yang disebut Sapangan Bawin yang artinya orang-orang perempuan yang mewarisi ajaran-ajaran itu atau dengan sebutan sekarang Basir/pisu (rohaniawan) yang mampu melaksanakan (memuput) berbagai kegiatan upacara keagamaan Hindu Kaharingan.

Setiap pelaksanaan upacara tersebut semuanya menggunakan bahasa Sangiang seperti misalnya :
- Upacara korban suci kepada leluhur (pakanan sahur)
- Upacara perkawinan
- Upacara rukun kematian seperti halnya :
-          mapas,
-          nyalentup,
-          natumbur,
-          nantau, dll yang menggunakan bahasa sangiang.

Eksistensi bahasa Sangiang merupakan realitas budaya yang merupakan hasil dari ide kreatif leluhur masyarakat Hindu Kaharingan yang mencerminkan budaya atau pola kehidupan masyarakat pendukungnya. Samudera makna memang begitu dalam, apalagi jika dikaitkan dengan budaya, ada banyak makna yang mengandung nilai – nilai positif dan masih relevan bagi kehidupan manusia di dunia kini. Maka ajakan untuk menjaga dan melestarikan seni budaya dan bahasa sebagai warisan leluhur sebuah suku bangsa sebenarnya bukanlah sekedar bukti apresiasi terhadap leluhur belaka, namun lebih dari itu, nilai tuntunan hidup, etika, pelestarian lingkungan, keagungan Ranying Hatalla Langit, dan nilai-nilai positif lain yang berada di balik wacana ritual keagamaan Hindu Kaharingan tersebut sepatutnya diilhami dan dilestarikan.

Baca juga : Bahasa Sangiang, Bahasa Roh Dayak Kaharingan Kalimantan

Selasa, 17 Mei 2016

Bahasa Sangiang, Bahasa Roh Dayak Kaharingan Kalimantan

AAA – Di Kalimantan, Suku Dayak khususnya yang beragama Hindu Kaharingan memiliki beragam budaya dan bahasa. Keragaman budaya dan bahasa tersebut tentunya melahirkan keunikan tersendiri bagi negeri ini. Dalam hal bahasa, salah satu bahasa kuno yang kini masih bertahan di kalangan masyarakat Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah adalah bahasa Sangiang.
Bahasa Sangiang, Bahasa Roh Dayak Kaharingan Kalimantan

Perlu kita ketaui, Sangiang adalah roh-roh leluhur selaku utusan Tuhan yang dapat diundang kehadirannya oleh seorang basie/basir dengan menggunakan mantra-mantra dalam bahasa Sangiang/bahasa Sangen pada suatu upacara agama Kaharingan yang dilakukan suku-suku Dayak di Kalimantan. (di kutip dari wikipedia indonesia)

Bahasa Sangiang kini hanya bisa ditemukan secara tertulis dalam Kitab Suci Panaturan dan Mantra Tawurserta balian yang telah dibukukan(hingga saat ini tidak semuanya telah dibuat tertulis), selebihnya bahasa Sangiang hanya bisa didengar ketika para Basir atau Pisor (rohaniawan Hindu Kaharingan) menuturkan mantra – mantra ritual pada upacara keagamaan. 
       
Arti Bahasa Sangiang
Berdasarkan beberapa uraian di atas bahwa yang dimaksud dengan bahasa sangiang itu adalah segala sesuatu yang digunakan seseorang untuk menyampaikan ide /gagasan, pikiran dan perasaannya kepada Tuhan serta Malaikatnya serta sesama manusia.

Kemudian menurut filsafat Hindu Kaharingan yang dimaksud dengan Bahsa Sangiang adalah bahasa yang dipergunakan oleh Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa) sebagai bahasa komunikasinya dengan Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut dan Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan  Limut Batu Kamasan Tambun (manusia pertama).

Bahasa Sangiang itu dapat kita ketahui dan kita lihat pada kitab suci agama Hindu Kaharingan seperti pada :
  • 1.Panaturan
  • 2.Kandayu, Tawur
  • 3.Ayat atau mantra-mantra pada saat pelaksanaan upacara agama Hindu Kaharingan.
  • 4.Pada acara balian dan ayat-ayat Hanteran (kidung ritual).
Kedudukan Bahasa Sangiang
bahasa sangiang merupakan induk bahasa suku dayak Kalimantan Tengah yang berperan dalam pengungkapan seni budaya, adat dan tradisi suku Dayak.  Dengan melihat beberapa uraian di atas, jelas bahwa bahasa sangiang merupakan bahasa induk dan bahasa yang paling tertua dari bahasa dayak Ngaju yang ada di Kalimantan Tengah.

Fungsi Bahasa Sangiang
  1. Bahasa Sangiang sebagai media Upacara Agama Hindu Kaharingan Dalam penyelenggaraan upacara keagamaan bahsa sangiang dipakai sebagai media untuk melangsungkan upacara tersebut. Bukan berarti bahwa tanpa menggunakan bahasa sangiang lalu tidak dapat diterima atau dimengerti oleh para Dewa/Ranying Hatalla. Ini sifatnya memang karena sejak dulu suhda digunakan dalam setiap penyelenggaraan upacara keagamaan. Walaupun kita tahu bahasa Ranyinh Hatalla dan para Dewa adalah maha tahu tentang apa yang kita inginkan baik yang diucapkan maupun tidak diucapkan.
  2. bahasa Sangiang sebagai media Penyelenggaraan Upacara Adat dan Kebudayaan Fungsi bahasa Sangiang sebagai media dalam penyelenggaraan adat Kalimantan Tengah dapat dilihat dari istilah-istilah maupun kebudayaan dan ucapan-ucapan dalam melangsungkan upacara adat.
  • Penggunaan bahasa Sangiang dalam istilah-istilah adat Kalimantan Tengah seperti :

a.  Pelek Rujin Pangawin, artinya petunjuk/jalan adat perkawinan.
b.  Singang Entang, artinya kain yang merupakan kewajiban bagi mempelailaki-laki memberikan kepada orang tua mempelai perempuan (ibu), hal ini  diberikan karena selama anak itu lahir sampai dewasa ia diasuh oleh ibu.
c.  Palaku, merupakan harta milik dasar untuk menjalankan kehidupan berumah tangga.
d.  Lamiang, ije kahasa, seuntai lamiang yang siap untuk dipasang/diikat.
e.  Bulau Singah Pelek, sejumlah emas yang diserahkan pihak mempelai laki-laki sebagai simbol kesucian hati agar mereka berumah tangga, emas itulah yang bersinar baik kepada leluhur maupun kepada masyarakat lingkungannya sehingga keluarga merekalah yang bersinar dalam mengarungi kehidupan rumah tangga.
f.   Garantung Kuluk Pelek, simbol petunjuk menuju kehidupan bahagia sejahtera dalam kehidupan berumah tangga, sebagai pedoman hidup.
3. Bahasa Sangiang sebagai media Komunikasi di Masyarakat.

#sangkay city

Minggu, 15 Mei 2016

Alat Musik Kangkanung Dayak Kalimantan

AAA – Kali ini saya salin artikel dari salah satu blog yang saya ikuti. Setiap daerah memiliki alat musik yang beragam, contohnya adalah “Kangkanung” yang akan saya bahas di artikel ini.
 Kangkanung adalah alat musik yang berasal dari Kalimantan Tengah. Seperti yang anda ketahui, Kangkanung alat musik yang di pukul, tapi bukan alat musik moderen seperti Drum, alat musik ini sejenis instrumen yang juga terdapat di Jawa dengan sebutan Kenong, tapi Kangkanung lebih mengarah pada sejenis Bonang bila merujuk pada ensemble gamelan, di Bali disebut Reong, di Minang disebut Talempong.

Kangkanung adalah penyebutan yang umum baik bagi suku Dayak Ngaju, Ma'anyan. Taboyan, Lawangan dan Dusun, disebut juga dengan istilah Kanung, sedang di suku Dayak Siang disebut Klentang.

Cara memainkannya hampir sama dengan alat musik sejenis dari daerah lainnya. Jumlah Kangkanung ada 5 buah, yang disusun secara berjejer memanjang diatas rajutan tali di sebuah wadah kotak persegi panjang yang terbuat dari kayu.

Kangkanung
  • Asal dari                           : suku-suku Dayak di Barito
  • Jenis Instrumen                : Idiophone
  • Nada                                 : A, C, B, E, dan G
  • Jumlah                              : 5 buah
  • Frequensi bunyi                : ? Decibel
  • Cent Nada                         : ?
  • Ukuran lingkar                   : masing-masing kurang lebih 20 cm
  • Ukuran lingkar tonjolan     : masing-masing 3-5 cm
  • Dimainkan                         : Dipukul menggunakan 2 buah stick kayu
  • Penempatan                      : Disusun berjejer diatas rajutan tali, diatas sebuah kotak persegi panjang dari kayu
  • Bahan                                : Campuran tembaga, timah, kuningan (perunggu)
  • Sikap pemusik                   : duduk bersila pada saat memainkan
  • Instumen sejenis               : Bonang/Kenong (Jawa), Reong (Bali), Talempong (Minangkabau)
Ukuran lingkar Kangkanung kurang lebih 20 cm dan memiliki tonjolan (bagian yang di pukul) di bagian atas dengan 3-5 cm.

Nada masing-masing Kangkanung dihasilkan dari tebal tipisnya masing-masing buah Kangkanung, nada tersebut yaitu A, C, D, E, dan G, dengan klasifikasi nada pentatonik. Kangkanung dimainkan dengan cara di pukul dengan dua buah pemukul atau stick, pemukul/stick terbuat dari bahan kayu yang kuat. Stick atau pemukul Kangkanung tidak dibuat benjolan pada ujungnya dan tidak juga dilapisi kain atau karet pada ujung yang bersentuhan dengan Kangkanung. Bahan Kangkanung terbuat dari campuran timah, tembaga, dan kuningan. Posisi atau sikap pemain Kangkanung pada saat memainkannya, dengan sikap duduk bersila.

Fungsi musik, untuk mengiringi upacara adat ritual Balian, penggunaan Kangkanung untuk upacara Balian dikeranakan bunyi yang dihasilkan Kangkanung sesuai dengan bunyi yang dihasilkan oleh Gelang yang dihentakkan penari Balian (baik Dadas maupun Bawo) di pergelangan tangan mereka.

sumber :http://dayak-artmusic.blogspot.co.id /2010/03/kangkanung-kangkanung-ini-sejenis.html
(Disusun oleh Satriawan dari hasil wawancara tertulis dengan Debbi Leriantoni, sanggar seni KOMANDAN (komunitas anak Dayak Ma'anyan))

Jumat, 13 Mei 2016

Warna dan Artinya dalam Suku Dayak Ngaju

AAA – Dayak Ngaju (Biaju) merupakan Dayak yang bermukim di daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan atau di daerah Kalimatan Tengah, Kalimatan Selatan, serta Kalimantan Barat bagian selatan.
 
Seda lama suku Dayak Ngaju telah mengenal warna, warna yang mereka kenal sangat terbatas, tapibaru setelah bangsa Cina masuk kira-kira pada abat ke 12 dan 13 kekepulauan Kalimantan barulah mereka mengenal berbagai macam warna melalui kain yang dijual para pedagang Cina pada jaman dulu, kain ini diberi warna dengan kesumba, kesumba ini pulalah yang dibawa oleh pedanggang Cina dijual kepada suku Dayak dan kemudian digunakan untuk mewarnai hasil tekstil mereka.
Sebelum orang Cina masuk ke pulau Kalimantan, suku Dayak hanya mengenal lima warna yang disebut dengan 5 Ba, yaitu; Bahenda, Bahandang, Bahijau, Baputi, Babilem (dalam bahasa Dayak Ngaju).

Berikut warna-warna tersebut beserta arti masing - masing warna :


1.     Bahenda
Bahenda yaitu warna kuning, warna ini dibuat dengan menggunakan tanaman henda atau kunyit, mengandung makna; menunjukkan keberadaan Hatalla (Tuhan), bahwa kekuasaan Hatalla sungguh besar tidak ada penguasa lain selain Hatalla; melambangkan kekayaan (emas); keluhuran; keagungan.

2.     Bahandang
Bahandang yaitu warna merah, merah dihasilkan dari buah hutan yaitu jarenang (jernang), bisa juga dari daun sirih dicampur dengan kapur. Artinya sesuatu yang abadi yang tidak pernah luntur atau berubah warnanya yang diilhami oleh batu merah.

3.     Bahijau
Bahijau yaitu warna hijau, warna ini dibuat dari daun sirih yang ditumbuk, memiliki makna kesuburan, dan rejeki yang limpah ruah; kehidupan; perdamaian dan pembangunan. Diilhami oleh warna tanaman yang ada di lingkungan mereka.

4.     Baputi
Baputi atau putih, dibuat dengan menggunakan tanah liat putih atau dari kapur sirih, memiliki makna kesucian; kemurnian; kesederhanaan.

5.     Babilem
Babilem atau hitam, dibuat dari arang ,mengandung makna, roh jahat bisa juga roh baik; kuasa kegelapan; kesungguhan; bisa juga sebagai penangkis bahaya atau celaka.

Rabu, 11 Mei 2016

Tentang Suku Dayak Maanyan

AAA - Berbicara untuk memahami Kebudayaan Dayak Maanyan sekarang bukanlah mudah. Perubahan begitu cepat yang telah dialami suku ini terutama setelah lebih setengah abad berlalu. Nilai -nilai telah bergeser dan berubah, karena pengaruh yang masuk ke tengah-tengah masyarakatnya. Pengaruh Pemerintah Belanda, Jepang, zaman pergolakan hingga tercapainya kemerdekaan bangsa kita, zaman Orde Baru dan setelah keruntuhan orde baru sampai Pemerintahan saat ini.
Sumbangan berupa pemikiran terutama bagi peminat serta bersedia mau membangun dan mengembangkan masyarakat Dayak Maanyan sangat diharapkan pada masa ini. Terutama mendampingi mereka dalam gejolak perubahan tajam meninggalkan kepercayaan lama dari benturan-benturan yang mungkin merugikan. Jalan yang memungkinkan dengan memperhatikan sejarah, adat kebiasaan dan budaya suku ini.

Menurut legenda turun temurun, kelompok ini berasal dari Asia Selatan termasuk Proto Melayu. Dari ceritera yang dituturkan oleh Wadian Matei dalam upacara kematian Marubia Kiyaen, kelompok suku ini pernah melewati Sri Bagawan dan kota Lingga. Di dalam Kiyaen itu, tidak pernah disebut-sebut nama-nama tempat di Sumatera dan Jawa. Kiyaen adalah kisah perjalanan suku ini. Besar kemungkinan melalui atau melewati Kalimantan bagian Utara memakai Banung atau bahtera, kemudian menyusuri pantai timur Kalimantan, Selat Makassar. Banung mereka ada yang sesat ke Pilipina selatan, ada pula singgah di Tanjung Pamukan dan kemudian dikenal dengan Dayak Sumihin menempati Tanah Gerogot selatan.

Dikisahkan bahwa rombongan utama yang dipimpin oleh Datuk Sigumpulan dan isterinya Dara Sigumpulan tiba disuatu tempat yang bernama Gusung Kadumanyan atau Gusung Malangkasari tidak jauh dari Ujung Panti di tepi sungai Barito. Tidak diketahui dengan jelas mengapa kelompok ini berpindah-pindah dari sana ke Bakumpai Lawas, Jengah Tarabang, Katuping Baluh, Bamban Sabuku, Kupang Sundung, Unsum Ruang, Eteen (Balangan) dan kemudian Nan Sarunai. Nan Sarunai menjadi tempat yang makmur dan maju. Tata pemerintahan sudah teratur. Diperkirakan letaknya di sekitar Banua Lawas, Pasar Arba di hilir Kelua sekarang. Pemerintahannya dipegang oleh semacam dewan, terdiri dari 40 orang yang mempunyai keahlian masing-masing. Sebagai pimpinan pemerintahan pada masa itu adalah Ambah Jarang dengan dibantu oleh 7 orang Uria dan 12 orang Patis.

Ketika Nan Sarunai mencapai puncak kemajuannya, tiba-tiba diserang oleh pasukan dari Jawa. Kejadian tersebut terkenal dengan ungkapan "Nan Sarunai hancur, usak Jawa". Sebagian kecil penduduknya melarikan diri dan membangun tempat baru diberi nama "Batang Helang Ranu". Karena tidak aman Batang Helang Ranu itupun ditinggalkan, lalu menyebar ke daerah Barito Timur dengan pembagian Paju IV, Paju X dan Banua Lima. Sekitar abad ke 16 datanglah Lebai Lamiyah meng-Islamkan, kecuali Paju IV, sampai ke Kampung Sarapat. Itulah sebabnya di daerah Paju IV masih ada Hukum Kematian dengan membakar tulang dan mayat. Karena ajaran-ajaran agama Islam sangat berbeda dengan adat istiadat dan kebudayaan mereka, maka kembalilah mereka ke status kepercayaan asli mereka semula. Akibatnya disana sini ada perubahan termasuk tak ada "Mapui" atau Pembakaran Mayat.

Penghujung abad ke 18 Belanda dapat dengan mudah berkuasa atas kelompok yang sangat mencintai kedamaian dan ketentraman ini. Kemudian diikuti oleh penyebaran agama Kristen Protestan. Masih pada ujung abad itu sudah ada diantara penduduk yang dibaptis oleh Pendeta Tromp dari Zending Bremen. Agama Kristen merambat masuk melalui Kuala Kapuas. Misi itu diikuti dengan mendirikan gedung gereja di Tamianglayang tahun 1933 dan sekolah Rakyat di beberapa kampung. Semula menempati Kampung Beto, kemudian Murutuwu, akan tetapi kampung tersebut menolak misi itu.

Dengan dibukanya sekolah tadi maka daerah ini menerima perubahan yang sangat berarti. Melalui pendidikan kemudian, orang Maanyan mulai masuk dan menjadi Kristen yang dikenal dengan "Ulun Ungkup", sedang yang menjadi Islam karena perkawinan dan hal lain disebut "Ulun Hakei". Kata Maanyan masih simpang siur mengartikannya. "Ma" artinya ke dan "anyan" berarti tanah kering dan berpasir. Jadi orang yang mendiami tanah kering dan berpasir, tetapi ada juga yang berpendapat dan mengartikan, ialah orang yang mendiami Gusung Kadumanyan. Kelompok ini sudah mengenal bertani ladang dengan memperhatikan bintang "Awahat". Mata pencaharian lain yakni berburu, menangkap ikan, membuat perahu dan lain-lain. Ketika ini tetap berladang, berkebun karet, rotan dan buah-buahan dan berternak babi. Jika dahulu hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sekarang sudah merupakan tambahan nilai ekonomis.

Sebelum perang dunia kedua sudah banyak keluar untuk mencari lahan baru dan lebih subur. Disamping hutan merupakan sumber usaha tambahan. Mengumpulkan hasil hutan dan usaha membuat perahu. Karena hutan semakin menipis, maka pertanda kemunduran bagi hidup dan kehidupan mereka. Kemana lagi? kini lebih 40% menjadi buruh dan pegawai meninggalkan tempat asal mereka, menyebar kemana-mana. Ciri khas watak pada umumnya sangat menyukai seni dan bahasa satra asli, lemah lembut bertutur kata, suka merendah-rendah, dalam berbicara ceplas ceplos dan terus terang bila sudah mengenal teman bicara. Agak mudah percaya, bila tertipu jadi pendendam. Suku Dayak Maanyan sangat mempertahankan harga diri dan tidak suka mencari masalah.

Senin, 14 Maret 2016

Upacara Kematian dalam Suku Dayak Maanyan

AAA – Kematian bagi setiap orang sungguh mengerikan, menyedihkan dan menakutkan sebab harus berpisah dengan kaum keluarga yang dicintai dan disayangi. Namun semua harus diselesaikan sesuai adat dan rukun kematian itu sendiri. Meskipun yang meninggal karena karam atau mati di negeri lain, upacaranya tanpa jasad tetapi sudah cukup dengan pakaian, rambut atau kuku si mati. Upacaranya disesuaikan dengan kemampuan keluarga, meskipun semua pekerjaan maupun biayanya didapat dari sumbangan dan bantuan seluruh keluarga bahkan oleh penduduk kampung.
Upacara kematian yang lengkap disebut Marabia, Ijambe dan Ngadaton untuk tingkat terhormat. Harus dilaksanakan secara lengkap menurut adat agar sampai ke Datu Tunyung (sorga). Bila tidak arwah atau adiau bisa gentayangan tidak sampai ke tempat tujuan. Balian atau Wadian Matei sangat berperan memanggil, mengantar dan menunjuk jalan yang berliku-liku agar sampai ke Datu Tunyung yang dikatakan penuh dengan keriaan, kecukupan tak berhingga. Biaya dan bahan yang harus tersedia : uang, beras, beras pulut, jelai, telur, ayam kecil dan besar, babi bahkan kerbau.
Lama pelaksanaan dari satu malam, dua, tiga, lima, tujuh bahkan sembilan. Urutan menurut hari pelaksanaannya : Tarawen, Irupak, Irapat, Nantak Siukur dalam Marabia. Pelaksanaan upacara siang malam dapat selesai berkat kegotongroyongan dan semangat kebersamaan yang tinggi. Tidak ada perhitungan berapa biaya, tenaga dan waktu maupun perhitungan ekonomi lain asal si mati bisa diantarkan sampai ke Datu Tunyung. Perbuatan kaum kerabat demikian bahkan memberi kebahagiaan kehidupan dengan arwah lain yang telah mendahului mereka. Biaya yang dikeluarkan tidak sia-sia karena menjadi bekal perjalanan adiau menuju dunia kaum keluarga yang telah meninggal mendahului mereka.

Belian orang mati (wadian matei) yang  diinterview menggambarkan amirue/adiau akan diantar ke tumpuk janang jari, kawan nyiui pinang kakuring, wahai kawan intan amas, parei jari, kuta maharuh, welum sanang, puang mekum maringin, arai hewu (Roh yang meninggal kan di bimbing perjalanannya oleh belian menuju tempat/ perkampungan yang subur, kelapa dan pinang menghijau indah, bertaburkan intan dan emas, padi yang subur, makanan yang enak, hidup sejahtera, selalu sehat dan gembira). Pada dasarnya Upacara (adat) kematian merupakan berbagai jenis upacara (serangkaian) dari kematian sampai beberapa upacara untuk mengantar adiau/ roh ke tumpuk adiau/ dunia akhirat.

Berikut beberapa upacara tersebut :
  • Ijambe 
Ijambe, (baca : Ijamme’) yaitu upacara kematian yang pada intinya pembakaran tulang mati. Pelaksanaan upacaranya sepuluh hari sepuluh malam. dan membutuhkan biaya yang sangat besar, dengan hewan korban kerbau, babi dan ayam. Karena mahal Upacara ini dilakukan oleh keluarga besar dan untuk beberapa Orang (tulang yang udah meninggal). Ngadatun, yaitu upacara kematian yang dikhususkan bagi mereka yang meninggal dan terbunuh (tidak wajar) dalam peperangan atau bagi para pemimpin rakyat yang terkemuka. Pelaksanaannya tujuh hari tujuh malam.
  • Miya
Miya, yaitu upacara membatur yang pelaksanaannya selama lima hari lima malam. kuburan dihiasi dan lewat upacara ini keluarga masih hidup dapat “mengirim” makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya kepada adiau / arwah orang yang sudah meninggal.
  • Bontang / Buntang
Bontang, adalah level tertinggi dan “termewah” bentuk penghormatan keluarga yang masih hidup dengan yang sudah meninggal, upacara ini cukup lama 5 hari lima malam, dengan biaya luar bisa, “memakan korban “puluhan ekor babi jumbo dan ratusan ekor ayam kampung esensinya adalah memberi/ mengirim “kesejahteraan dan kemapanan” untuk roh/ adiau yang di”bontang”, upacara ini bukan termasuk upacara duka, tapi sudah berbentuk upacara sukacita
  • Nuang Panuk
Nuang Panuk, yaitu upacara mambatur yang setingkat di bawah upacara Miya, karena pelaksanaannya hanya satu hari satu malam. Dan kuburan si mati pun hanya dibuat batur satu tingkat saja, di antar kue sesajen khas Dayak yaitu tumpi wayu dan lapat wayu dan berbagai jenis kue lainnya dalam jumlah serba tujuh dan susunan yang cukup rumit
  • Siwah
Siwah, yaitu kelanjutan dari upacara Miya yang dilaksanakan setelah empat puluh hari sesudah upacara Mia. Pelaksanaan upacara Siwah ini hanya satu hari satu malam. Inti dari upacara Siwah adalah pengukuhan kembali roh si mati setelah dipanggil dalam upacara Miya untuk menjadi pangantu pangantuhu, atau “sahabat” bagi keluarga yang belum meninggal.

Yang menarik dari upacara tersebut adalah banyak unsur seninya, baik tumet leut (sajak yang dilantunkan dengan nada indah tapi tetap, dan tarian tarian khas jaman dulu misalnya giring-giring atau nampak maupun nandrik.

Sebelum memulai tahun perladangan, segala upacara untuk masalah kematian dan upacara syukuran harus sudah selesai dilaksanakan. Jika tidak, sangat berbahaya dan merugikan untuk keselamatan keluarga seisi kampung dan padi yang akan ditanam. Semua upacara harus ditutup mengadakan "Ipaket" atau "Ibubuhan" dengan tujuan menolak bala bencana untuk tahun depan. Semua roh jahat harus diberi bagian, agar dapat bekerja dengan tenteram dan keluarga dijauhkan dari sampar dan sebagainya. Upacara diadakan pada malam hari penuh seperti Nyepi di Bali. Artinya, tidak membunuh, tidak memotong kayu/pohon, menumbuk dan membuat ingar bingar di kampung sehari penuh.